Banjir, Antara Hikmah dan Musibah

MUSIM hujan di Indonesia termasuk Aceh, pada umumnya terjadi pada November. Namun diperkirakan intensitas dan frekuensi curah hujan akan semakin meningkat pada Januari-Februari. Sehingga tatkala memasuki penghujung Januari seperti terjadi pada 2014 ini, masyarakat Indonesia harus ekstra-waspada terhadap serangan banjir. Sejumlah daerah di Jawa termasuk DKI Jakarta, kala itu dilanda banjir hebat yang membuat sejumlah warganya tepaksa diungsikan ke lokasi yang lebih aman.
Pada umumnya masyarakat yang bermukim di wilayah langganan banjir harus serentak berjaga sepanjang siang dan malam. Setiap orang terpaksa menjadi ‘super hero’ bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain dan harus selalu siap siaga beraksi untuk mengantisipasi segala bentuk keadaan. Bahkan naluri self defense secara otomatis muncul kepada setiap orang yang berpikir positif, sehingga akan menyadari betapa kuat dan tangguhnya mental mereka menghadapi kenyataan hidup di atas genangan air.
Banjir yang belakangan ini melanda sejumlah daerah di Indonesia, khususnya di Aceh, bukan faktor cuaca yang menjadi penyebab utama. Curah hujan yang tinggi tak bisa serta-merta ditunjuk sebagai biang musabab bencana ini. Apalagi menurut catatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), curah hujan kali ini sebenarnya lebih rendah dibanding tahun lalu. Namun banjir yang kini sedang melanda tidak kalah dahsyat dengan banjir pada musim hujan tahun lalu.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa bencana banjir itu lebih karena faktor manusianya yang kurang bersahabat dengan alam. Diakui atau tidak, alam yang telah diciptakan oleh Allah Swt pada dasarnya sangat seimbang, selebihnya tergantung seberapa jauh manusia bisa mengatur, memanfaatkan dan melestarikannya.
Begitu pula musibah banjir saat ini sedang melanda beberapa daerah di Aceh, bukan hanya disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi, tapi juga karena faktor ketidakseimbangan alam akibat tangan jahil manusia. Hal serupa juga terlihat saat banjir yang merendam sejumlah daerah di Tanah Air pada awal 2014 ini, penyebabnya lebih didominasi oleh faktor lingkungan yang semakin amburadul.
Oleh karena itu, dengan mengabaikan kondisi lingkungan di sekitar kita, maka dengan atau tanpa curah hujan yang tinggi, bencana banjir akan senantiasa menerjang berbagai wilayah di Indonesia, termasuk banjir yang saat ini sedang melanda beberapa daerah di Aceh. Apalagi jika tingkat curah hujan makin tinggi, maka bencana banjir pun makin hebat.
Jadi, menuding faktor cuaca sebagai biang musabab bencana banjir sekarang ini adalah terlalu naif. Apalagi tak sedikit orang yang seolah tidak sadar hingga ‘menghujat’ hujan sebagai penyebab terjadinya banjir tersebut. Padahal, sesungguhnya hujan yang turun adalah berkah dari Allah dan seharusnya setiap manusia bergembira atas berkah tersebut.
Langkah konkret untuk mengatasi banjir, seharusnya bukan dengan menempuh jalan pintas semacam rekayasa cuaca --sebagaimana pernah dilakukan pemerintah DKI Jakarta saat banjir melanda wilayah ibu kota Januari lalu-- melainkan dengan perubahan sikap untuk kembali memperlakukan lingkungan secara arif. Jika tidak demikian, maka alam akan terus menunjukkan hukumnya sendiri berupa banjir dan bencana yang lain.
 Mengambil hikmah
Banjir yang melanda sebagian besar wilayah di Aceh saat ini, sebagaimana terjadi di sejumlah daerah lainnya di Tanah Air pada Januari lalu, memang terkadang menyisakan duka yang mendalam. Tidak sedikit korban yang berjatuhan dan banyak di antara mereka pun terpaksa kehilangan tempat tinggal. Namun selalu ada hikmah dan pelajaran berharga yang bisa kita petik dari setiap peristiwa yang terjadi.
Oleh karena itu, siapa pun yang terkena musibah atau yang sekadar meyaksikan musibah banjir yang terjadi di wilayah lain, hendaknya merenungkan tuntunan Islam dalam menyikapi musibah, sehingga musibah tersebut bisa disikapi dengan benar dan dipetik hikmahnya demi perbaikan di masa yang akan datang.
Setiap orang harus beriman bahwa musibah apa pun termasuk musibah banjir merupakan ketetapan Allah sehingga wajib menerima ketentuan Allah tersebut dengan lapang dada. Sebagaimana firman Allah Swt dalam Alquran: “Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).
Sikap lapang dada dan ridha padasetiap ketetapan Allah akan mendatangkan kekuatan ruhiyah yang besar dalam menghadapi musibah itu. Selain itu bisa juga menguatkan kondisi psikologis yang akan meringankan dampak musibah itu dan sangat membantu dalam upaya penyelesaiannya. Disadari atau tidak, sesungguhnya di balik musibah terkandung hikmah yang luar biasa.
Rasulullah saw bersabda dalam hadisnya: “Tidaklah seorang hamba ditimpa musibah lalu ia mengatakan, Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali, (lalu berdoa) ya Allah berilah pahala kepadaku dalam musibahku ini, dan berilah ganti bagiku yang lebih baik daripadanya, kecuali Allah memberinya pahala dalam musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik untuknya.” (HR Muslim)
Kabar gembira tersebut menjelaskan bahwa ketika musibah datang, maka seharusnya dihadapi dengan istirja’, doa dan sabar, maka Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik, di dunia dan atau di akhirat. Bukan hanya itu, Allah juga menjanjikan ampunan bagi orang yang terkena musibah apapun. Seperti yang disebutkan oleh Rasulullah saw: “Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Allah tinggikan dia satu derajat atau Allah hapuskan darinya satu kesalahan.” (HR. Muslim).
Dengan demikian, setiap orang yang terkena musibah atau bencana, baik berupa banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi atau musibah lainnya, maka hendaklah mengambil hikmah dan pelajaran berharga di balik musibah itu. Dengan keimanan disertai sikap ridha dan sabar akan segala ketetapan Allah, maka ia akan memiliki ketangguhan mental sehingga setelah musibah berlalu, semuanya berubah menjadi kebaikan. Wallahu a’lam bis-shawaab.