Merindukan Ramadhan Kembali

RAMADHAN adalah bulan Islam (syahrul Islam) karena pada bulan ini seluruh rukun Islam akan tegak bersamaan dengan tegaknya ibadah puasa. Di dalam bulan Ramadhan bukan hanya ibadah puasa yang ditegakkan tetapi mencakup seluruh sendi kehidupan dari mulai ibadah, muamalah, siyasah, akidah, akhlak dan lain-lain. Sehingga Islam terpancar di bulan ini melebihi bulan-bulan lainnya.
Untuk melihat hubungan antara bulan ramadhan sebagai bulan Islam dengan kehidupan kaum muslimin, maka mari kita merujuk pendapat M Zuhdi Zaini (2009) soal klasifikasi secara sosiologis, tipologi kaum muslimin dalam Islam yang terbagi kepada tiga kelompok yaitu: Pertama, kaum muslimin yang menjadikan Islam sebagai kegiatan atau suksesi khusus (seremonial). Dimana Islam bagi kelompok ini adalah urusan kelahiran, pernikahan, kematian dan pengambilan sumpah. Di luar empat hal tersebut kelompok jenis ini bebas tanpa ada aturan agama.
Kedua, kaum muslimin memandang Islam sebagai ibadah ritual seperti shalat, zakat, puasa, haji dan sebagainya. Pada kelompok ini kaum muslimin sangat gemar beribadah mahdhah, namun sangat keras penolakannya terhadap pemberlakuan syariat Islam, karena pada posisi ini Islam dilihat hanya sebatas ibadah semata.
Ketiga, merupakan kelompok kaum muslimin yang memandang Islam adalah agama dan negara, juga akidah dan syariat. Kelompok katagori ini meyakini bahwa seluruh aktifitas manusia apakah berkaitan dengan ibadah mahdhah, pidana (jinayah), perdata (as-syaksiyah), politik (siyasah), bisnis (mudharabah, murabahah), dan lain-lain telah diatur oleh Islam.
Oleh karena Islam adalah dien yang paripurna dan menjadi standar rujukan bagi kaum muslimin kapan pun dan dimana pun dirinya berada. Sayangnya kelompok yang disebut terakhir ini bersifat inferior alias minoritas di tengah jumlahnya yang mayoritas. Sekalipun ada yang mencoba menghibur, bahwa kalangan ini diakui unggul dari segi kualitas, namun kalah dari sisi kuantitas.
 Capaian ideal
Mencermati pembagian kehidupan kaum muslimin di atas, maka diperoleh pula “benang merah” yang dapat menjelaskan adanya keterkaitan erat antara bulan Ramadhan dengan capaian ideal kehidupan kaum muslimin dalam melaksanakan ajarannya secara menyeluruh (kaffah). Dari sini pula kemudian akan tampak bahwa gelar syahrul Islam, bukanlah sembarang gelar sebatas disematkan pada bulan Ramadhan semata.
Ini dapat dilihat dan dirasakan sepenuhnya oleh kaum muslimin dalam membangun relasi, baik dalam konteks hablum minannas maupun dalam konteks hablum minallah. Sehingga beragam peristiwa konkret sebagai manifestasi capaian kaum muslimin sebagaimana dimaksud terekam jelas di bulan Ramadhan ini. Kenyatannya sikap serta perilaku kaum muslimin seakan-akan hidup dalam suasana melaksanakan syariat secara kaffah.
Selama Ramadhan, misalnya, kehidupan pribadi terlihat lebih saleh, toleran dan peduli sesama anggota keluarga, mudah dalam menunjukkan rasa simpati dan empati di masyarakat serta giat membangun silaturrahim antarsesama. Bahkan keadaan ini tergambar di seluruh pelosok gampong, sebagai satuan terkecil masyarakat dalam struktur pemerintahan. Lihatlah ketika shalat-shalat fardhu terlaksana dengan suasana lebih hidup (berjamaah), di waktu bersamaan sikap saling toleran, saling menghormati dan patuh pada pemimpin (ulil amri) sangat menonjol seperti ditunjukkan dalam setiap kegiatan di bulan Ramadhan.
Imbauan-imbauan memperingati Nuzulul Qur’an, buka puasa akbar (ifthar jama’i), serta kegiatan sosial apa pun yang diagendakan pada bulan ini, secara keseluruhan dipastikan akan berjalan lancar tanpa hambatan berarti. Masyarakat cenderung menerima dan mengikuti apapun kebijakan dari umara-nya tanpa muncul reaksi berlebihan (kontra).
Dalam lingkup yang lebih luas lagi yakni secara nasional, masyarakat ikut menyaksikan bagaimana jajaran pemimpin atau wakil rakyat baik di tingkat eksekutif maupun legislatif turut menunjukkan sikap-perilaku yang lebih islami, lebih mampu menahan diri dan tampil beda setiap kali Ramadhan tiba. Terlihat ada pejabat negara lebih sering menggunakan peci dan baju koko sekalipun sedang berdinas, lalu para istri pejabat yang saban hari menggunakan hijab (jilbab) dalam sesi-sesi mendampingi suami maupun seremonial khusus. Kemudian ada juga yang doyan (gemar) blusukan ke masyarakat dan hadir di tempat-tempat ibadah, seraya membawa bantuan langsung dengan mengemas kegiatan-kegiatan tersebut dalam bentuk “Safari Ramadhan”, dan lain-lain.
Energi positif ramadhan turut pula menular ke sektor-sektor yang menyangkut hajat hidup orang banyak terlebih di sektor jasa. Bagaimana Badan-badan Usaha Milik Negara (BUMN) tampil lebih siap, taktis dan super-agresif memenuhi segala kebutuhan masyarakat. Di sektor perdagangan, jarang terdengar selama Ramadhan ada pusat-pusat perbelanjaan yang kehabisan stok barangnya, bahkan yang muncul adalah menjamurnya pasar-pasar murah dan pasar tumpah dengan tingkat inflasi yang cenderung stabil.
Di sektor transportasi, terdapat banyak armada yang ditambah unit kendaraan dan jam operasinya. Di sektor konstruksi, masyarakat merasakan banyaknya jalan dan jembatan yang diperbaiki, ditambah dan seterusnya. Di sektor pendidikan, dijumpai adanya program-program ektrakurikuler yang berbasis pembentukan karakter peserta didik melalui kegiatan bakti sosial, training motivasi, dan kegiatan bersifat afektif lainnya.
Begitupun tidak kalah menarik adalah sektor ekonomi khususnya perbankan yang turut memberi andil signifikan bagi pertumbuhan ekonomi makro negara. Hal ini dibuktikan dengan menggeliatnya sektor perbankan syariah selama Ramadhan plus trend positif peningkatan jumlah simpanan nasabah dalam jumlah berlipat, berikut pula brand Bank-bank Syariah yang semakin membumi dewasa ini.
 Negeri syariat
Demikianlah situasi dan kondisi nyata dari perjalanan kaum muslimin selama mengisi rutinitas kehidupannya di bulan Ramadhan. Keadaan ini tidak hanya berlaku di negara kita, tetapi di seluruh pelosok bumi di mana pun kaum muslimin berada. Inilah potret negeri syariat, gambaran negeri yang memadukan cita-cita hidup di akhirat dengan keberlangsungan hidup di dunia secara apik. Sekali pun kaum muslimin berbeda pemahaman sebagaimana diuraikan pada awal tulisan ini.
Konklusinya Ramadhan adalah katalisator, solusi dari perbedaan dan episentrum dunia Islam untuk meyakinkan umat mengenal nilai-nilai luhur universalnya, sebagaimana Baginda Rasulullah saw membawa risalah Islam ini sebagai rahmatan lil’alamin. Sepantasnya Ramadhan adalah syahrul Islam dan Ramadhan sebagai miniatur negeri syariat yang diidamkan itu. Ramadhan senantiasa kita rindukan untuk datang kembali menyapa kita pada tahun-tahun berikutnya.
sumber : aceh.tribunnews.com/2014/07/25/merindukan-ramadhan-kembali